TRADISI TEMANTEN KUCING MASYARAKAT DESA PALEM TULUNGAGUNG DALAM PERSPEKTIF AKSIOLOGI MAX SCHELER
DOI:
https://doi.org/10.56707/jmela.v1i01/2021/03.13Kata Kunci:
Foklor, Nilai, Kearifan Lokal, TradisiAbstrak
Masyarakat Indonesia di setiap daerah memiliki kekayaan pengetahuan lokal yang biasa disebut dengan kearifan lokal. Kearifan lokal sebagai salah satu alat perekat suatu bangsa saat ini sangat diperlukan. Akan tetapi, beberapa kearifan lokal di daerah satu persatu mulai memudar. Hal ini dikarenakan arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang semakin deras kehadirannya membuat kearifan lokal menjadi terlupakan. Penelitian ini penting dilakukan di tengah krisis persatuan bangsa dan krisis nilai ketuhanan setiap individu. Sebab, melalui kearifan lokal di setiap daerah dapat mengeratkan kembali persatuan antar warga dan dapat menumbuhkan jiwa-jiwa Pancasilais kembali. Tujuan penelitian ini adalah Menganalisis makna tradisi temanten kucing masyarakat desa Palem Tulungagung. Menganalisis objektivisme Max Scheler terhadap nilai-nilai tradisi temanten kucing masyarakat desa Palem Tulungagung.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2021 Putri Retnosari

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Ketentuan hukum formal untuk mengakses artikel digital jurnal elektronik ini tunduk pada ketentuan lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike (CC BY-SA), yang berarti Jurnal Metalanguage berhak untuk menyimpan, mengubah format, mengelola di pangkalan data, memelihara dan menerbitkan artikel tanpa meminta izin dari Pencipta selama tetap menggunakan nama Pencipta sebagai pemilik Hak Cipta.