NARASI KEHIDUPAN GENERASI Z DALAM BAHASA MEDIA SOSIAL: PERSPEKTIF SASTRA DAKWAH
Keywords:
generasi Z, bahasa media sosial, sastra dakwah, narasi kehidupanAbstract
Perkembangan media sosial telah memunculkan berbagai bentuk komunikasi baru yang banyak digunakan oleh generasi muda, khususnya Generasi Z. Bahasa yang berkembang dalam media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana ekspresi pengalaman sosial, emosional, serta cara generasi muda memaknai kehidupan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasi kehidupan Generasi Z yang tercermin dalam penggunaan bahasa media sosial melalui perspektif sastra dakwah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 60 responden Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial serta melalui teknik dokumentasi terhadap penggunaan istilah bahasa dalam komunikasi digital. Data yang terkumpul dianalisis melalui tahapan reduksi data, klasifikasi data, dan interpretasi makna bahasa berdasarkan perspektif sastra dakwah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan oleh Generasi Z dalam media sosial mencerminkan berbagai pengalaman kehidupan seperti pencarian ketenangan diri, relasi sosial, serta ekspresi identitas generasi muda dalam ruang digital. Beberapa istilah populer seperti healing, vibes, flexing, red flag, dan overthinking menunjukkan adanya representasi kondisi emosional serta dinamika sosial generasi muda dalam kehidupan modern. Dalam perspektif sastra dakwah, bahasa tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk narasi kehidupan yang mengandung nilai-nilai moral dan potensi pesan dakwah yang relevan dengan kehidupan generasi digital. Dengan demikian, media sosial dapat dipahami sebagai ruang ekspresi bahasa sekaligus ruang baru bagi pengembangan sastra dakwah yang lebih kontekstual dalam masyarakat digital.
References
Baym, N. K. (2015). Personal connections in the digital age (2nd ed.). Cambridge: Polity Press.
Boyd, D. (2014). It's complicated: The social lives of networked teens. New Haven, CT: Yale University Press.
Castells, M. (2010). The rise of the network society. Oxford: Wiley-Blackwell.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Crystal, D. (2011). Internet linguistics: A student guide. London: Routledge.
Eneste, P. (1992). Sastra dan agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Giddens, A. (1991). Modernity and self-identity: Self and society in the late modern age. Stanford, CA: Stanford University Press.
Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. New York: Anchor Books.
Jenkins, H., Ford, S., & Green, J. (2013). Spreadable media: Creating value and meaning in a networked culture. New York: New York University Press.
Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of social media. Business Horizons, 53(1), 59–68.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nasrullah, R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Papacharissi, Z. (2015). Affective publics: Sentiment, technology, and politics. New York: Oxford University Press.
Prensky, M. (2001). Digital natives, digital immigrants. On the Horizon, 9(5), 1–6.
Rainie, L., & Wellman, B. (2012). Networked: The new social operating system. Cambridge, MA: MIT Press.
Santrock, J. W. (2012). Life-span development (13th ed.). New York: McGraw-Hill.
Sugiyono. (2018). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Turkle, S. (2017). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age. New York: Penguin Press.
Wellek, R., & Warren, A. (2016). Theory of literature. New York: Harcourt Brace.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Lukman Fahmi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
